Pret! Trio Bukaan-Rana-ISO Mengatur Jumlah Cahaya

Posted on 20/02/2013

2


Kita hampir siap memotret. Posting awal, ..Belajar Menilai Foto kita tahu cahaya adalah elemen terpenting, disusul posting berikut …Mengatur Jumlah Cahaya, banyaknya atau jumlah cahaya yang perlu ditangkap menentukan hasil foto. Posting sekarang, kita lihat apa yang terjadi saat menjepret.

Pret! Jepret menandakan kamera sedang menangkap cahaya. Ada 3 setting di kamera yang bekerja sama melakukan ‘penangkapan’: bukaan atau aperture, rana atau shutter, dan kepekaan latar menangkap gambar dinyatakan dalam ISO.

Bukaan, Aperture (A)

Diagram Aperture-Shutter

Cahaya dan hasil ukur
Kamera dalam keadaan diam ibarat mata terpejam. Pret! Kamera membuka ‘mata’nya membiarkan cahaya masuk. Setting bisa diatur kecil, biasa, atau terbelalak seperti gambar (1),(2),(3). Cahaya yang paling banyak ditangkap pastinya (3).

Foto-3 dan Foto-4 (baris bawah) A = 8.0 dan A = 2.8. Angka rendah bukaan semakin lebar, semakin banyak cahaya masuk. Foto terakhir yang mirip ‘asap’ menandakan cahaya yang ditangkap kamera terlalu banyak.

Apertur (A) Lebar Cahaya banyak Foto terang f rendah, contoh: 2.8, 3.5, 5.6 Ruang tajam Pendek
Apertur (A) Kecil Cahaya sedikit Foto gelap f tinggi, contoh: 8.0, 18, 22 Ruang tajam Panjang

Ruang tajam belum kita bahas sekarang.

Rana, Shutter (S)

Kamera seperti mata juga, bisa berkedip. Pret! Kamera membuka mata lalu terpejam lagi. Cahaya paling banyak kalau buka matanya lama. Masuk akal.

Lama kedip kamera dijalankan rana (shutter, S). Lihat foto-2 dan 3, bukaannya sama, A = 8.0; tetapi kecepatan rana 1/640 membuat foto tampak gelap, menandakan cahaya yang ditangkap kamera sedikit. Pada kecepatan 1/200 foto lebih terang karena cahaya yang ditangkap lebih banyak.

Shutter (S) Rendah Cahaya banyak Foto terang Dalam detik: 1/30, 1/60 Obyek diam/statis Kabur, goyang
Shutter (S) Tinggi Cahaya sedikit Foto gelap Dalam detik: 1/125, 1/500 Obyek bergerak Diam

Dampak terhadap obyek diam dan bergerak belum kita bahas sekarang.
 
Melihat kedua tabel, gelap-terang sebuah foto dikendalikan 2 setting di atas, ‘A’ dan ‘S’. Kalau begitu jumlah cahaya sama bisa diperoleh dengan mengatur setting (bukaan kecil + kecepatan rana rendah) atau (bukaan besar + kecepatan rana tinggi).

Bisa, tetapi hasil fotonya tidak sama. Dampaknya terhadap ‘ruang ketajaman’ dan ‘obyek’ yang belum dibahas di sini.

ISO, Kepekaan latar gambar

ISO merupakan ukuran kepekaan tabir atau latar foto menerima cahaya yang tertangkap kamera. Tabir dibentuk oleh sekian juta sensor; untuk cahaya umum kepekaan sensor ISO 80-200 sudah mencukupi menerima cahaya yang lemah sekali pun.

Tetapi pada kondisi ekstrim di mana sumber cahaya sangat minim seperti malam hari atau ruangan gelap, di mana obyek sukar terlihat, kepekaan ISO diatas tidak lagi memadai. Semua akan tampak hitam gelap merata, obyek samar dan kasar.

Apa akal? ISO dinaikkan. Cahaya diperkuat secara elektronik sama seperti musik yang diperkeras. Terdengar suara berisik ikutan bukan bagian dari musik yang disebut derau atau noise. Begitu pula penguatan cahaya. Muncul ‘noise’ yang bukan bagian dari obyek foto. Noise mulai terlihat pada ISO 400 dan lebih tinggi. Jangan berharap terlalu banyak memperoleh foto prima… .

ISO
Tinggi
Diperkuat
Foto terang
Contoh ekstrim
1600, 3200
Obyek
Samar, kabur, kasar
ISO
Rendah
Tidak diperkuat
Foto gelap
Contoh ekstrim
100, 200
Obyek
Jelas, tajam, halus

Jadi kalau tidak terpaksa biasakan memotret menggunakan ISO rendah (80, 100, 200). Ini kelemahan setting ‘auto’ kamera saku digital yang otomatis menaikkan ISO kalau cahaya dianggap kurang! Lihat 3 foto ISO 400 di atas. ‘Noise’ terlihat kalau diperbesar.

Belajar menilai foto sendiri

Foto-1 dan Foto-2 — bukaan sama A = 80. Untuk mendapatkan jumlah cahaya sama, ISO = 80 rana = 1/125 detik diimbangi ISO = 400 rana = 1/640 detik. Hasilnya, Foto-2 lebih detil (kusen jendela); Foto-1 lebih gelap tetapi lebih halus/tajam. Foto-2 lebih terpakai.

Kalau Foto-1 mau ditingkatkan: (1) mendekati Foto-2, perpanjang waktu ‘kedip’ rana 1/150 atau 1/200 detik (2) foto baru, lakukan sebaliknya, perpendek rana 1/100 atau 1/50 detik untuk memunculkan profil awan!

Foto-2 dan Foto-3 — bukaan A = 80, ISO = 400. Foto-2 manual rana = 1/640 detik, Foto-3 auto rana = 1/200 detik. Foto-3 latar depan (kusen jendela) lebih detil, latar belakang terlihat silau. Foto-3 tidak terpakai, tidak jelas obyek mana sebenarnya yang ingin ditonjolkan?

Foto-3 dan Foto-4 — ISO = 400, auto. Foto-3 A = 8.0 rana = 1/200 detik diimbangi Foto-4 A = 2.8 rana = 1/640 detik. Tidak terkejar, cahaya terlalu banyak meskipun rana diperpendek 3x. Foto-4 tidak terpakai.
 
 
Pengetahuan mendasar menangkap cahaya selesai, lengkap dengan contoh dan analisa sendiri memakai konsep ‘burung bangau’ atau ‘matahari terbenam’ posting lalu. Kita juga belajar bahasa baru, bahasa kamera.

Siap ‘pret!’ memotret? Nantikan seri posting berikutnya mengenal lebih dalam kamera ‘mur-mer’ saku digital, terkait ketiga setting kunci pencahayaan ini.
 
:D  (masih belajar membedah habis setting ‘manual’ kamera)
 
Posting terkait:
Tips Awal Memotret Mengatur Jumlah Cahaya
Memotret Pertama Dengan Kamera Saku Digital