Dari Jepret Ke Motret

Posted on 24/10/2013

4


Ini terjemahan bebas motivasi untuk para fotografer, ‘from snapshots to great shots’! Sudah waktunya beralih dari asal menjepret, merekam gambar hanya kita yang suka, ke jepret terarah, yaitu merekam gambar peristiwa yang orang lain juga suka!

Kamera saku DSLR

Canon EOS20DTidak ada pilihan, belajar otodidak kamera saku digital di blog sejak Februari 2013 secara bertahap beralih ke kamera ‘saku’ digital. Maksudnya kamera DSLR dengan harga sesuai saku… hehe, jadinya Canon EOS 20D. Seken. Mirip Canon IXUS 80 IS, sensor 8 MP, lensa zoom (EF-S 18-55mm f/3.5-5.6), menu juga mirip. Lumayan, tidak belajar lagi. Sekarang bisa menggali kemampuan kamera ini dan membandingkan hasilnya dengan kamera saku digital.

Dari Jepret ke Motret

Sesuai kelasnya sayang kalau DSLR dipakai hanya menjepret saja.. ‘don’t take pictures, make pictures’ begitu kata Ansel Adams, ‘bapak’ fotografi’. Obyek pertama memotret DSLR adalah pemandangan atau lanskap seperti pelajaran menggambar saat kita masih kanak-kanak dulu.

Setelah belajar sedikit setting kamera, ternyata rumit juga, nekat memulai. Di kiri gambar lanskap dari internet untuk rujukan, di kanan hasil jepretan perdana dengan DSLR.

Lanskap-Balubur

Belajar Dari Hasil

Foto ini terbagus dari 163 jepretan menurut pakar yang biasa jadi juri di ajang berbagai lomba foto, termasuk juri lomba Salon Foto Indonesia besok lusa di Lembang (Bandung). Menurut beliau, komposisi bagus ada garis-garis virtual termasuk sungai menuju ke 1 titik, pencahayaan bagus ada gelap terang.

Ketajaman — belum puas menurut sendiri setelah melihat gambar rujukan tajam dari depan hingga belakang. Dengan kata lain, batas ruang tajam atau ‘DOF’ (depth of field) mulai puluhan cm sampai tak-hingga. Kalau gambar jepretan dibesarkan DOF masih terlihat. Benar, ada Photoshop untuk menajamkan gambar (belum dilakukan). Benar, ada kabut tipis pagi hari yang mungkin jadi penyebab (pasti bukan). Ada setting fokus di kamera yang belum dipelajari, yang menyebabkan hasil jepretan tajam total. Namanya hiperfokal. Pada kamera saku digital tidak ada.

Belum tahu tekniknya tetapi kalau sudah esok lusa jepret lagi di tempat yang sama.

Pemakaian filter — di bawah hasil lain,
Balubur-EastDua jepretan, satu membidik matahari satu lagi ke arah pemukiman. Cantik kalau keduanya bisa disatukan dalam 1 gambar. Dengan Photoshop? Sudah coba, kurang berhasil.

Anjurannya, pasang filter ‘GND’ (graduated neutral density) di depan lensa. Sifat filter mengurangi pencahayaan berlebih yang terang dan menambah pencahayaan pemukiman yang gelap. Oh, gitu. Satu lagi, atur setting ‘suhu cahaya’ di kamera sehingga warna oranye-merah cerah matahari terbit mencuat! Oh, gitu.
 
:D  (terimakasih pak Andi, pe-ernya banyak!)